Thursday, February 15, 2018

Selamat Jalan, Pilin.

sebaris pesan masuk waktu aku membatu di depan mac..
kemarin, 14 februari 2018
"Pilin meninggal, sedih banget aku".
adalah Dani Moenggoro, pengirim pesan itu.

lalu cepat check group, dan linimasa.
benar ia berpulang.

Matheus Pilin, teman seperjalanan, pegiat sosial 
dari Kalimantan Barat.
teman mengelola program kembar.
sistem hutan kerakyatan namanya.
1993, aku di Kaltim, Pilin di Kalbar.
kami memulai memandu konsorsium ornop itu,
cikal bakal perhutanan sosial itu.

hampir setiap bulan bertemu,
entah di forum nasional, entah di kampung
untuk apa yang dulu kami sebut belajar dari kampung.

selalu saja pertemuan kami diselingi perdebatan,
lalu ditutup dengan tawa panjang,
tentang satu atau beberapa hal yang menurut kami
berasa absurd untuk sebuah program tendensius kala itu.
dan sekarang tendensius itu menjadi biasa saja,
bernama perhutanan sosial.

selalu saja ada hari dimana kami bertemu hanya berdua,
membincangkan banyak hal, 
di sela pertemuan membosankan kala itu.
dan selalu saja kami tak habis pikir 
tentang jalan yang kami tempuh saat itu.
dan seperti biasa, selalu saja ia berkata
"nanti akan ada hari, dimana perjuangan ini dinikmati,
bukan oleh kita, tapi oleh orang lain yang sekarang menolaknya.
tapi, nanti kita harus selalu hadir.  karena implementasinya
masih jauh dari yang kita cita-citakan".
Pilin seperti menjadi ahli peramal, karena sekarang itu menjadi fakta.
jalan perhutanan sosial itu, berbelok jauh dari Sistem Hutan Kerakyatan.
satu gagasan kembalinya hak kelola rakyat atas sumberdaya alamnya.

selamat jalan, Bung.
waktumu tiba terlebih dulu.ini soal waktu saja. 
kamu pergi saat apa yang kamu perjuangkan ada pada titik tertinggi
pusat perhatian banyak pegiat, bahkan mereka yang menolaknya.

selamat jalan, Bung.
sampai jumpa nanti disana,
di tempat dimana cita-cita tentang hak kelola rakyat itu 
tak lagi berbelok seperti sekarang, 
dan nanti lurus seperti yang kamu cita-citakan.

mungkin nanti disana kita tak perlu lagi workshop setiap bulan,
dan mungkin tak perlu lagi bikin laporan bulanan,
bahkan tak pusing dengan audit keuangan.
nanti kita bisa wujudkan cita-cita itu, 
tanpa basa-basi itu semua.

selamat jalan, kawan.
tunggu aku disana.
semoga bisa kita ramaikan surga.

[ untuk Matheus Pilin, rekan seperjalanan, Sistem Hutan Kerakyatan ]


Saturday, January 6, 2018

pe-ge

“Hei! kamu siapa? darimana? anak baru?”
begitu aku teriakkan teguran pada anak baru, beransel besar dan terlihat tak tau akan kemana itu, di pelataran depan gedung kampus Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, tahun 1991.
Sesaat anak itu menoleh dan menjawab bahwa ia mahasiswa baru Fahutan UNMUL, baru tiba di kampus, dan membawa ransel berisi semua pakaiannya, dan tak tau harus kemana. 
Yang aku ingat, tak ada pancaran takut di wajahnya. Sialan, gengsi seniorku segera memenuhi kepala. Sebagai mahasiswa senior, tak ditakuti oleh junior adalah sebuah penghinaan. Lalu aku segera mendekati sang mahasiswa tak tau hormat itu.

Kutanya asal-usulnya, kutanya apa rencananya, kutanya kemana akan menuju. Dijawabnya semua dengan kata “belum tau”. Sialan! Lalu kuperintahkan ia duduk di motorku, “ikut aku, kamu kuantar ke rumah kost”, kataku setengah menghardik. Ini sebenarnya strategi senior kampung macam aku untuk menanamkan rasa takut pada junior.  Kampretnya, anak itu malah tersenyum dan santai saja menuruti hardikan-ku, “makasih, bang” katanya sambil tersenyum.

Kubawa ia ke White House, sebuah rumah kost pria (kala itu), yang biasa aku tongkrongi, setiap hari.  Disitu pula tinggal para senior kampus Kehutanan, yang dikenal garang (sebuah image yang sepertinya sengaja dibangun, agar disegani. Padahal kalau sedang memetik gitar, para senior itu juga kerap menyanyikan lagu cinta yang meratap-ratap).
Kukenalkan anak baru itu pada beberapa senior seperti Marudut Purba yang tak perlu buka suara untuk menunjukkan garangnya. Senior satu itu, cukup diam saja, menyibak rambut panjangnya, dan memandang, dijamin mahasiswa junior akan kencing di celana.  Kukenalkan juga anak baru itu kepada senior seperti Longgena Ginting, yang keliatan kalem kalau bicara, tapi menyakitkan kalau bertanya. Kujamin anak baru itu akan menyembah-nyembah kalau dihardiknya.  Juga kukenalkan ia pada Yayan “Bayi” Henri Danisukmara, senior flamboyan yang tidak cuma mahasiswa junior wanita akan bertekuk lutut pada wajah playboy-nya, bahwa Ibuk Gado-gado Isabela saja kerap terpesona oleh bujuk rayunya. Modus untuk dapat utangan makan. Biasalah, mahasiswa rantau macam Bayi ini kalau sudah tanggal tua, sama saja kondisi dompetnya. Setipis Tempe Bu Oman. Begitu seloroh kami.
Sialnya lagi, si anak baru ini, saat kukenalkan pada senior-senior berpengaruh itu, selalu tersenyum dia. Dan tak ada pancaran takut di wajahnya. Memang anak baru kampret, begitu umpatku kala itu dalam hati.

Waktu berlalu cepat, lalu tiba-tiba saja aku sudah ada dalam lingkungan yang sama dengan si anak baru itu. Lingkungan pegiat sosial, lembaga swadaya masyarakat. Lalu interaksi menjadi lebih intens di lingkungan itu. Sampai pada akhirnya aku tau bahwa usia kami tak terpaut jauh. Anak baru itu cuma 1 tahun lebih muda. Dan akhirnya aku tau juga perjalanan hidupnya yang ia ceritakan sambil menghembuskan asap rokok yang tak pernah putus itu. Ya, akhirnya kami berkawan. Anak itu tak lagi jadi juniorku. Kami menjadi setara.

Anak itu lalu menunjukkan kualitas hatinya. Ia dikenal baik hati, dan tak pernah berselisih dalam dengan semua orang. Bahkan kudengar ia menjadi sosok yang melindungi, menjadi tempat berkeluh kesah teman-temannya. Mungkin juga karena ia lebih tua, hahaha. Tapi, di luar itu semua, interaksi kami membuktikan bahwa anak itu, memang punya kualitas hati yang premium. Baik hati, dan selalu membuat orang nyaman berada di sekitarnya.

Dua hari lalu, aku bicara lewat telepon dengan anak itu, yang sudah jadi senior di sebuah organisasi. Kami mengatur janji ketemu. “Aku di kantor sampai jam 12 siang. Jam 12 aku harus ke Balikpapan antar anakku ke bandara”, begitu katanya. Lalu kami sepakat bertemu jam 10 pagi di kantornya. 
Jam menunjukkan pukul 10 waktu aku membatalkan janji bertemu. Barisan tulisan di mac-ku memaksaku menunda bertemu dengannya. “Kita ketemu hari Jum’at saja ujarku”, anak itu setuju.

Kemarin, Jumat, 5 Januari 2018, kami memang bertemu. Bertemu dengan cara berbeda. Aku di barisan jamaah, anak itu di depan, menjadi umat yang dishalatkan.  Lalu aku antar anak itu kembali mendekati kampus. Bukan untuk kuliah, bukan untuk bernostalgia. Aku antar anak itu ke peristirahatannya yang terakhir, pemakaman, dekat kampus.
Bedanya, kali ini anak itu bukan bersamaku bermotor. Tapi diantar banyak kawan yang bersedih. Diantar kerabat yang berduka.

Selamat jalan, sobat. Kamu bukan lagi juniorku. Kamu sudah menjadi senior, bahkan untukku. Banyak hal yang harus aku pelajari dari semua interaksi kita. Rendah hati, itu yang paling kuat yang selalu kamu tunjukkan. Itu akan jadi pelajaran berarti buatku.

Selamat jalan, kawan. Ini hanya soal waktu. Aku pasti akan menyusulmu, karena kepindahan ini sudah digariskan. Tunggu aku disana, kita akan bicara soal CJ-7 dan jeep keren yang selalu kamu bilang.  Selamat jalan.

Kamu, kawanku, anak itu, bernama Pajar Gumelar.

Tuhan selalu memberi jalan terbaik bagi umat terbaik-Nya.

[sempaja lestari indah, 6 januari 2017, sehari setelah PeGe berpulang]

Thursday, January 4, 2018

saya begitu

mengapa saya peduli
pada organisasi itu?

karena saya punya kepedulian.
peduli pada performa-nya.
peduli pada alasan mengapa 
organisasi itu ada.
peduli pada capaiannya.
peduli pada reward yang musti
sesuai dengan performance.

jika tak ada landasan
untuk mengawasinya,
maka saya akan maju 
untuk melakukannya.
garis saya begitu,
dari dulu.

sampai akhirnya ada landasan
yang resmi untuk mengawasi.

maaf, dari dulu saya begitu.

[ ]

Friday, December 29, 2017

kamu kawan

tidak ada yang mudah 
memulai sebuah perubahan.
apalagi dengan tujuan kebaikan.

kata seorang teman yang sedang sakit itu,
penghargaan tertinggi bukan pada 
kamu yang menjadi pendorong perubahan,
tapi kepada mereka yang berani berubah,
untuk kebaikan.

soal kamu, yang dibaca sebagai batu sandungan,
padahal kamu bertujuan menjadikan jalan itu tak bergelombang,
maka biarkanlah. 
waktu yang akan bercerita nanti,
bahwa batu kamu adalah penumpu jalan berlubang menganga itu.
niatkan saja untuk kebaikan, perbaiki saja caramu.
begitu katamu lagi.

tiba-tiba aku harus memaksamu untuk segera sembuh.

[ ]



Tuesday, December 5, 2017

Egosinergi

Kemarin, duduk sejenak bersama beberapa teman, pekerja proyek. Mendiskusikan bagaimana isu unit pengelola hutan di Kaltim ini dapat menjadi optimal.  Jangan mikir negatif dengan kata “proyek”.  Saya sebut sebagai “proyek”, karena sesungguhnya kegiatan-kegiatan itu adalah proyek. Dilaksanakan karena melalui proses penawaran, atau pengajuan proposal. Jadi, kata “proyek” disini tak usahlah dikonotasikan negatif. Karena yang penting nanti bagaimana kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan. Kemana orientasinya, siapa penikmat hasilnya.

Proyek-proyek ini, sebut sajalah: Forclime, GGGI, Belantara, TNC (kemarin sih yang hadir ya empat ini, tambahan lainnya bisa saya sebutin aja: WWF dan proyek-proyek para NGO macam BUMI, BIOMA, KBCF, dan banyak lah) sesungguhnya mendukung hal yang sama. Menyasar tujuan yang sama, yaitu kemampuan unit pengelola hutan (dan lingkungan, dan sumberdaya alam) yang kuat.  
Sayangnya, target-target dari setiap proyek itu, berbeda durasi dan jumlah uang yang dapat digelontorkan (dan dikelola). Belum lagi interest di dalam masing-masing keproyekan. Ini perkara gampang-gampang susah.

Buat saya, pemain bebas ini, yang memungkinkan main dimana-mana ini, yang paling penting adalah sinergi mereka. Tidak sulit sebenernya. Karena toh semua kawan-kawan sendiri, tinggal say hello, semua bisa bertemu. Toh rata-rata saling paham tentang proyek mana punya program apa, dimana area kerjanya, siapa mitranya, berapa dana tersedia.  Simpel sih.

Lalu apa yang membuat seringnya proyek-proyek ini saling balap di tikungan? atau saling menelikung?
Menurut saya sih, ini perkara keengganan untuk duduk bersama dan saling mendengarkan saja.  Dengan dalih sibuk, kejar target, jadwal penuh, maka sarapan nasi kuning bersama, saling berbagi rencana, lalu bersinergi, menjadi barang langka.  Justru yang sering adalah masing-masing proyek makan pagi bersama, tim yang sama, bicara isu yang sama, dan bikin rencana-rencana yang sudah ada dalam perencanaan sebelumnya. Perilaku yang aneh :D

Kecurigaan saya lainnya, ini perkara ego saja. Dan yang bemain adalah ego pribadi saja. Soal sentimen-sentimen kecil yang membercak di hati masing-masing pekerja proyek itu. (tau lah aku, kalau yang beginian ditanya terbuka, gak bakalan diakui, lalu beralasan pakai ribuan bab, chapter, pasal dan pengingkaran, haha).

Situasi yang semacam gunung es ini, yang punya potensi laten ini, sesekali harus dipecahkan.  Cara tergampang sih habisi duitnya. Alias, tunggu durasi proyeknya habis, duit habis, lalu yakinlah, akan ada sinergi. Lha kan gak bisa bikin apa-apa. :D

Cara yang elegan (dan rasanya bener) adalah membuat semua proyek bisa saling berkomunikasi dalam sinergi. Kuncinya sih pada komunikasi. Iya, komunikasi.  Bagaimana agar semua proyek itu bisa sharing rencana, sharing resources, sharing pelaksanaan.
Tugas ini harusnya dilakukan oleh representasi pemerintah sih. Sebagai pemegang otorita atas program-program yang berjalan di wilayahnya. Pada isu lingkungan, sumberdaya alam dan perubahan iklim, di Kalimantan Timur ini, sepertinya fungsi itu dimandatkan pada satu unit kerja yang disebut dengan DDPI itu. Ya, kepanjangan singkatan itu  adalah Dewan Daerah Perubahan Iklim. Sebuah unit kerja non struktural di Kaltim yang diberi kewenangan koordinasi pada isu itu. Tidak untuk mengambil alih fungsi OPD yang ada, tetapi untuk melengkapi. Kira-kira begitu teorinya.

Fungsi unik dari DDPI dalam hal melakukan koordinasi kerja-kerja keproyekan pada isu tadi (lebih banyak pada isu perubahan iklim, tapi melebar juga pada isu pengelolaan kawasan dan peran masyarakat) harusnya bisa dilakukan dengan obyektif. Ini perkara gampang yang sulit :D.
Agak cilakanya, DDPI ini perlahan tidak lagi mendapat pembiayaan dari pemerintah.  Peraturan tidak memungkinkan. 
Artinya, ia harus membiayai dirinya sendiri, untuk kerja yang dilakukan atas nama pemerintah Kaltim. Tak masalah sih, toh pembiayaan dari beberapa donor masih memungkinkan.  Singkatnya, dari beberapa proyek yang ada, bisalah satu-dua memberikan support langsung pada unit ini.
Cilaka kedua, pertanyaan generik saja, apakah DDPI dapat berlaku obyektif bin adil dalam melakukan koordinasi semua proyek yang ada, sedangkan pada saat yang sama ia sedang menerima support dari satu proyek?

So, gimana sentimen proyek, ego pribadi dan potensi ketidakmampuan DDPI berlaku obyekif ini berpengaruh terhadap upaya pencapaian tujuan pengelolaan hutan (dan lingkungan, dan isu perubahan iklim, dan penguatan masyarakat)? Faktualnya apa yang terjadi? Lalu apa yang harus dilakukan bersama segera?

Saya sih bukan evaluator, dan tidak sedang melakukan evaluasi terhadap kerja-kerja proyek beraroma perubahan iklim di Kaltim.  Saya ini sedang menuliskan apa yang ada di kepala saja.  Kalau anda tidak setuju ya ndak apa-apa. Kalau anda setuju, ya juga ndak apa-apa. Gak ngaruh buat proses ketombean di kepala botak saya ini.

Kayaknya sih, ini perlu apa yang disebut sebagai EGOSINERGI. Yaitu sinergi berbasis ego. :D
Apa itu? Ntar lah, kalau ada waktu saya tuliskan lagi. Dikira enak apa nulis ginian? :D

(Lalu tetiba teringat email masuk semalam, minta menghasilkan output tentang ceruk peningkatan kapasitas pengelola hutan. Kontrak belum, deal apa-apa juga belum. Perilakunya mirip-mirip proyek sebelumnya sepertinya. Bagus ditinggalkan aja kayaknya :D. Lalu pusing bayar cicilan kebun yang sudah lama ndak ditengok. Halaaaaah!)

[ lepas subuh ]