Thursday, November 23, 2017

mau kemana?

teman makan teman
itu biasa dalam politik.
kalau project makan project,
itu juga biasa dalam 
perebutan kepeng.

tapi kalau tak ada kepeng
yang perlu diperebutkan,
karena kepeng sudah ada 
di tangan,
maka peperangan berikutnya
ada pada soal klaim hasil,
dan perkelahian durasi
dan lokasi eksekusi.

kalau sedang duduk bersama,
saling tersenyum,
tetapi juga terlihat saling 
menyiapkan amunisi.
saling memaki juga.
saling telikung di punggung juga.

seperti sedang diadu kambing
(domba mahal, kambing saja)
oleh kepentingan 
yang harusnya diperangi.

sebenarnya semua ini
mau kemana?

sekedar bertanya saja,
karena pelan tapi pasti,
tiba waktunya,
memilih menyiangi rumput,
menunggu pohon berbuah,
tanpa hiruk pikuk.

(lalu ingat
cicilan kebun
masih lama
lunasnya, 
sialan!)

[ ]

kantor itu #2

kantor kecil itu,
dengan energy
yang harusnya luar biasa,
rupanya sedang dalam masa
dimana pilihan cuma dua,
maju terus, atau tergerus.

potensinya sungguh menjulang,
yang diperlukan adalah 
kerjasama dan ritme yang 
tak merenggang.

gap itu terlalu jauh,
harus ada ruang untuk
mewarnai,
dan menjadikan
energy tersembunyi
mengisi ruang itu,
lalu menghapus semua
jarak, buang kerak.

aku hanya membantu,
berproses tanpa bereaksi.
itu bagian dari fasilitasi.
apa untungnya?
melihat semangat itu,
melihat laju progress itu,
cukup sudah.
tak perlu yang tersurat.
tak butuh kalimat-kalimat.

penolakan pada ide
dan usulan di luar kotak,
itu biasa. 
karena kotak memang
menutup mata kita
dari apa yang sedang 
bergejolak.
syukur kalau bisa memilih
kotak transparan.
agar gejolak di luar
sudah bisa diperkirakan.
ini proses menjadi dewasa saja.

kantor itu
harus mewarnai 
dengan tegas
pengelolaan negeri ini.

harus.

[ ]

Friday, November 17, 2017

fasilitasi

Tetiba ingin membagi saja, cerita lama soal mengapa saya menikmati menjadi fasilitator.  Yang ternyata sudah ditekuni sejak lama.

Setelah kemarin berkisah kepada seorang yang menawan hati, tentang cerita lama ini, dan dijawab dengan tawa renyah, bahwa tak apa, toh disuka tentang sejarah yang tak putih-putih amat. Yah, hidup musti berwarna, salah satunya adalah warna gelap. Hahaha.

Kampus tatkala itu lebih sering mendung, begitu kira-kira sandi yang kami pakai, jika otak sudah memberi isyarat perlu pasokan miring, musim mendung kami menyebutnya.  Ya, biasa itu, kalau proyek di hutan baru berakhir, lalu dompet agak tebal sedikit, maka mendunglah langit itu.

Adalah saya, dan seorang kawan bergelar Kuro Kandas yang saat tulisan ini dibuat, sedang meringkuk di kamar rawat inap, (ia keracunan antibiotik dan gula darah yang aduhai tinggi), yang kerap bertugas mencari pasokan mendung itu. 

Warung Daeng, begitu kami menyebutnya, selalu terbuka 24 jam. Karena selain warung itu mendedikasikan diri pada kelompok miring macam kami, faktualnya, warung itu memang tak berpintu. Resmikan, dan buang daun pintunya. Begitu kira-kira leluconnya.

So, dari pasokan, lalu meracik, lalu menyajikan, itu tugas saya dan seorang teman ini. Bukan, bukan perkara kami lebih junior dari peserta mendung lainnya. Ini perkara menikmati membuat proses menjadi lebih mudah. Ini perkara memfasilitasi saja. Itu dia.

Tak berhenti sampai disitu, bahkan jasa fasilitasi saya akhirnya masuk juga pada tahap sedikit putih lah. Bergiliran bolak-balik keluar masuk rumah sakit. Mengantar dan menjemput peserta mendung itu. Semua! Dengan diagnosa yang sama, malaria dan infeksi saluran kencing. Hahaha... Malaria karena abai saat proyek hutan, dan infeksi saluran kencing karena terlalu banyak mendung itu. Bukan main, penyakit seragam.

Begitulah, fasilitasi itu ternyata sudah melekat erat pada hidup saya. Tak musti putih, boleh juga sebut warna hitam. Toh ini sejarah, yang menyenangkan juga kalau dikenang.

Hari ini, masa kini, saya menekuni fasilitasi. Tentunya lebih berwarna. Tetap ada warna gelap, tapi dari sisi berbeda menilainya. 
Suka saja, mengingat masa-masa bodoh tapi pintar itu, bersama teman-teman yang saat ini berjaya di jalurnya masing-masing. Tentunya mereka punya cara menilai sendiri tentang masa-masa itu, bebas saja, putih, gelap, cerah, berwarna.  Karena hidup ini proses saja.

Fasilitasi, pekerjaan yang menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan saat menceritakan kepada pemilik senyum indah itu.
Begitulah.

====

Tulisan ini didedikasikan untuk KuroKandas, Bayi, LG, Marudut, DIG, Didin, Yogsof, dan segenap member kampus Mapliplop, juga penghuni WH jaman itu.
Special: untuk Alm.EdyInsu & Alm.Bowo, rest in peace, Bro!

Wednesday, November 15, 2017

nuto, sembuhlah

pagi ini
dapat kabar.
kamu tepar.
tergolek di rumah sakit.
perkara yang sama
tahunan silam. 

ingat kusodorkan
obat, kita sama ujarku.
senyum saja kamu.
kutuliskan dosisnya,
kumaki senyum sontoloyomu,
karena aku tau
kamu pasti abai.

siang ini 
aku akan datang,
menjengukmu dan
kembali memakimu.

sembuhlah, nuto.
kita mancing lagi.

[ ]

Saturday, November 4, 2017

koordi[nasi]

kembali berulang cerita begini, tentang beberapa aktifitas teman, bekerja untuk isu yang sama, untuk tujuan yang sama.

tapi target dan waktu batas yang dijanjikan pada bohir memang lebih berkuasa. lalu  abailah pada semangat bersama dan berbagi.

belum lagi soal kekacauan di dalam, yang seperti supermarket itu. datang cepat, beli cepat, pergi cepat, lalu dikonsumsi cepat. selesai.  lalu teman semeja bahkan tak tau bilamana ia bekerja.  jadi, susah pula menjahitnya. lha wong jangankan bajunya, benangnya saja tak tau rimbanya.

begitulah teman-teman itu bekerja,
dalam ritme yang luar biasa, juga harus berjibaku dengan koordinasi, yang lebih sering tinggal nasi-nya saja.
sebagai pemain bebas, gemas juga melihat kekacauan ini. tapi bisa saja, ini juga bagian dari dinamika, yang memang menjadikan kerja bersama itu makin berwarna.

mengingatkan saja, bahwa masih ada pintu-pintu yang terbuka. yang mungkin bisa menjadi jalan, untuk keterpaksaan abai karena bohir itu.

ya, cuma bisa mengingatkan.
kata teman itu, apalah kita, ratik wara belaka. :D

- - -